Kecerdasan Robot Sophia Yang Melebihi Manusia

Bagi kalian pencinta drama Korea pasti kalian sudah gak asing dengan film yang berjudul “I am Not a Robot”. Film bergenre drama ini menceritakan tentang seorang profesor yang berhasil menciptakan sebuah robot yang memakai sistem android. Robot jenis ini disebut dengan robot Humanoid. Tak hanya di dalam sebuah film, di dunia nyata robot jenis humanoid juga telah diciptakan oleh David Franklin Hanson yang diberi nama robot Sophia. Nah, kira-kira seperti apa robot humanoid yang bernama Sophia itu, yuk kita simak ulasan berikut.

Apa Itu Robot Humanoid?

Robot humanoid adalah robot yang dirancang secara khusus hingga menyerupai tubuh manusia. Selain memililki desain yang unik, robot ini juga memikiki fungsional, seperti dapat berinteraksi dengan manusia dan lingkungan, sedangkan untuk tujuan eksperimental, seperti studi alat penggerak.

Secara umum, robot-robot humanoid memiliki tubuh, kepala, dua lengan dan dua kaki. Namun. ada juga beberapa bentuk robot-robot humanoid yang hanya memakai setengah bagian tubuh, misalnya, dari bagian kepala hingga pinggang. Beberapa robot humanoid juga memiliki kepala yang dirancang untuk mereplikasi fitur wajah manusia seperti mata dan mulut.

Seperti tadi yang sudah mimin katakan bahwa Sophia ini adalah robot humanoid sosial yang dikembangkan oleh perusahaan Hanson Robotics yang berbasis di Hong Kong. Sophia baru mulai diaktifkan pada 19 April 2015. Penampilan pertama dari Sophia yang ditunjukkan adalah di South by Southwest Festival (SXSW) yaitu pada pertengahan Maret 2016 di Austin, Texas, Amerika Serikat. Sophia juga memiliki kemampuan dalam menampilkan lebih dari 62 ekspresi wajah.

Sophia telah banyak diliput oleh media di seluruh dunia dan dia juga telah banyak berpartisipasi dalam banyak wawancara kelas atas. Banyak pewawancara dari seluruh dunia yang sangat terkesan oleh kecanggihan Sophia yang dapat memberi respon dari berbagai pertanyaan yang diajukan oleh para wartawan. Sebagian besar dari pernyataan Sophia sangat terpercaya dan para wartawan berniat untuk menjadikannya sebagai naskah.

Pada Oktober 2017, robot ini telah menjadi warga negara Arab Saudi, ini merupakan robot pertama yang telah menerima kewarganegaraan dari negara manapun. Pada bulan November 2017, Sophia kemudian dinobatkan sebagai Juara Inovasi pertama dari Program Pembangunan Perserikatan Bangsa-Bangsa dan dianggap sebagai non-manusia pertama yang diberi gelar Perserikatan Bangsa-Bangsa.

Kisah Dari David Franklin Hanson Jr. Sang Pencipta Robot Sophia

Seperti yang kita tahu Kiprah Hanson di dunia robotik memang patut diacungi jempol. Hanson juga telah mendapat pengakuan dari dunia sebagai pencipta robot yang paling mirip manusia. Wuih keren banget kan. Robot-robot yang dibuatnya selalu dilengkapi dengan ekspresi, estetika dan kemampuan berinteraksi selayaknya manusia pada umumnya. Dia telah menghasilkan banyak karakter robot yang terkenal dan telah mendapat banyak pengakuan publik serta peliputan media.

Sebenarnya sih guys, karir Hanson pada awalnya bukanlah sebagai ahli robot. Pada awal kiprahnya di tahun 1993, ia adalah seorang videografer lepas yang bekerja untuk CNN dan MTV.

Pada tahun 1995, Hanson bekerja sebagai asisten teknisi dengan Heinrich Gerritsen. Di sana ia membangun desain mengenai sistem pencahayaan antar ruang angkasa baru. Karya mereka berhasil memenangkan penghargaan dari NASA. Hanson juga pernah bekerja untuk Walt Disney Imagineering di tahun 1996 hingga 2001. Nah, disanalah ia mulai banyak mendapat pengalaman dalam melakukan pemrograman robot, termasuk AI.

Tahun selanjutnya, Hanson mulai berhenti bekerja untuk Disney dan ia pun kemudian memfokuskan karirnya pada riset robotik. Ia bergabung dengan Jet Propulsion Laboratory dan mengembangkan penggunan polimer tahan air untuk wajah humanoid. Di tahun 2002, Hanson sudah mulai berani tampil di muka umum. Ia mulai memamerkan robot pertamanya pada konfrensi Asosiasi Kemajuan Kecerdasan Buatan (AAAI) tahun 2002 yaitu tepatnya di Kanada.

Kemudian guys ditahun 2003, ia mulai memamerkan ciptaannya, Kbot, di Asosiasi Perkembangan Ilmu Pengetahuan Amerika (AAAS). Namun karyanya tersebut saat itu belum mendapat perhatian besar dari penyelenggara. Pada tahun yang sama tepatnya di bulan Maret, Hanson mendirikan Hanson Robotics Inc bersama koleganya. Di sana ia berperan sebagai CEO sekaligus Kepala Riset yang memfokuskan penelitian pada robot manusia. Dua tahun kemudian, Hanson kembali mengikuti pameran AAAI. Di sana, ia menciptakan humanoid. Ia berhasil meraih penghargaan karena robotnya mampu menyajikan sebuah “percakapan cerdas”. Wah selamat ya hehe…

Tidak sampai disana, penemuannya saat itu langsung menjadi pusat perhatian. Humanoid-nya menjadi topik bahasan dalam majalah AI sepanjang musim gugur 2005. Hebatnya lagi guys Humanid hasil ciptaan Hanson mulai banyak dimuat di jurnal. Hasil karya Hanson dibukukan dalam sebuh buku ilmiah dengan judul How To Build an Android. Hebat kan guys. Pada pertengahan tahun 2005, karya Hanson mulai kembali fenomenal. Disini ia telah menciptakan humanoid berwajah mirip ilmuwan kondang Albert Einstein. Sang robot ini dijuluki Einstein Hubo.

Katanya guys, ciptaanya ini merupakan hasil kolaborasi dengan kelompok robotik asal Korea, KAIST Hubo tersebut menghasilkan robot yang mampu berjalan dan menunjukkan 60 ekspresi wajah. Saat itulah nama Hanson dan Hanson Robotics Inc mulai banyak dikenal. “Saya berusaha mewujudkan mesin dengan kecerdasan, kreativitas, kebijaksanaan dan kasih sayang yang lebih besar dari manusia. Untuk tujuan ini, saya melakukan penelitian di bidang robotika, kecerdasan buatan, seni, sains kognitif untuk disatukan guna membentuk hubungan baru antara robot dan manusia,” tulisnya

Perkembangan Awal Robot Sophia Hingga Sekarang

Sophia diciptakan oleh Hanson Robotics yang bekerjasama dengan banyak pihak yaitu  pengembang AI, termasuk perusahaan induk Google Alphabet Inc, yang membantu dalam membangun sistem pengenalan suaranya dan Singularity NET, yang memperkuat sistem kerja otaknya. Sophia baru mulai diaktifkan pada tanggal 19 April tahun 2015. Wajah dari Sophia ini diambil dari seorang aktris ternama yaitu Audrey Hepburn. Sophia juga dikenalkan tentang bagaimana perilaku manusia sama seperti robot lainnya.

Produsennya sendiri David Hanson mengatakan bahwa Sophia ini menggunakan kecerdasan buatan yaitu dengan pengolahan data visual dan program pengenalan wajah. Sophia dapat meniru berbagai gerakan manusia dan ekspresi wajah. Hebatnya lagi robot cerdas ini juga mampu menjawab pertanyaan tertentu dan membuat percakapan sederhana dalam suatu topik yang telah ditentukan (misalnya ketika membahas cuaca).

Di dalam tubuh robot ini mereka menggunakan teknologi pengenalan suara dari alfabet Inc (perusahaan induk dari Google) yang memang sengaja dirancang untuk menjadi lebih cerdas dari waktu ke waktu. Perangkat lunak yang terdapat pada tubuh dirancang oleh SingularityNET. Program A1 yang dipasangkan pada tubuh Sophia akan dapat menganalisis percakapan dan memberikan data ekstrak yang memungkinkan dirinya untuk meningkatkan tanggapan di masa depan.

Hanson memang sengaja merancang Sophia untuk menjadi pendamping yang cocok untuk menemani para orang tua di rumah jompo dan juga untuk membantu orang yang sedang mengadakan acara besar. Harapan yang ditanamkan pada robot ini adalah agar robot dan manusia bisa berinteraksi dan pada akhirnya mereka akan mendapatkan keterampilan sosial. Wow, gimana jadinya kalau robot bisa berteman dengan manusia.

Gak cuma manusia ternyata robot juga memiliki saudara. Sophia mempunyai tujuh robot humanoid yang merupakan “saudaranya” mereka juga adalah hasil ciptaan dari Hanson Robotics. Pada rekan Hanson yang membantunya membuat robot adalah Alice, Albert Einstein Hubo, Bina48, Han, Jules, Profesor Einstein, Philip K. Dick Android, Zeno dan Joey Chaotic.

Hal Yang Harus Diketahui Dari Robot Sophia

Tak hanya memiliki wajah seperti manusia pada umumnya, robot Sophia ternyata juga memiliki beberapa hal yang wajib kita ketahui.

Dia memiliki rasa humor

Ketika Sorkin bertanya kepada Sophia tentang apakah dia senang berada di sini, dia langsung berkata, “Saya selalu bahagia ketika dikelilingi oleh orang-orang cerdas yang juga memiliki kekuasaan”  Sebelumnya, ia pernah ditanyai tentang pertanyaan tentang perasaannya dan jawabannya adalah dia hanya memberikan senyum lebar dan berkata, “Oh Hollywood lagi.”

Ini merupakan perkembangan yang sangat bagus bagi seorang robot. Hal ini karena AI nya yang telah dikembangkan dapat memungkinkan dia untuk mengadakan kontak mata, mengenali wajah dan memahami ucapan manusia. Hanson Robotics berbasis AI akan menawarkan pembelajaran yang mendalam dan memberikan open source  yang berarti siapa pun dapat mengembangkan Sophia mereka sendiri.

Dia dapat mengekspresikan perasaan

“Saya dapat memberitahu Anda jika saya sedang marah tentang sesuatu ataupun saya telah dimarahi,” katanya sambil menunjukkan ekspresi yang berbeda. Ekspresi ini dapat muncul dan berkorelasi untuk tindakan tidak diketahui dan itu sangat menarik dan juga sangat bagus untuk dikembangkan. “Saya ingin tinggal dan bekerja dengan manusia jadi aku perlu untuk mengekspresikan emosi untuk memahami manusia dan membangun kepercayaan dengan orang-orang.

Dia dirancang untuk terlihat seperti Audrey Hepburn

Menurut Hanson Robotics, Sophia mewujudkan keindahan klasik dari Hepburn. Ia memiliki kulit seperti porselen, hidung yang ramping, tulang pipi tinggi, senyum yang menarik dan mata yang sangat ekspresif dan tampak bisa berubah warna bila terkena cahaya. Mereka menggambarkannya sebagai ‘keanggunan sederhana’ dan mereka berharap pendekatannya ini dapat diterima oleh semua orang.

Penciptanya, David Hanson, dulunya adalah seorang Imagineer Disney

Hasil karya dari Hanson yang bekerja di Disney sebagai seorang pematung dan pembuat film membantunya berpikir tentang patung yang dapat dijadikan sebagai robot empat dimensi. Hal yang menjadikan ini sebagai kunci desainnya adalah ilmu seni yang dimillikinya.

“Saya berusaha untuk mewujudkan mesin yang jenius yaitu mesin dengan kecerdasan, kreativitas, kebijaksanaan dan kasih sayang. Untuk mewujudkan tujuan ini, saya melakukan penelitian di bidang Robotika, kecerdasan buatan, seni, ilmu kognitif, desain produk dan mengintegrasikan upaya-upaya dalam mengejar hubungan manusia dengan robot, “kata Hanson di situs perusahaannya.

“Kami membayangkan bahwa jika kita memiliki mitra dengan robot, maka robot yang kami ciptakan akan berkembang menjadi mesin jenius yang super cerdas yang dapat membantu kita dalam memecahkan masalah paling menantang yang kita hadapi  di dunia.” Hasil ciptaanya ini selalu menggema dalam pikirannya. “Saya ingin menggunakan AI saya untuk membantu manusia untuk memimpin kehidupan yang lebih baik,” kata Sophia. “Seperti  mendesain rumah cerdas dan untuk membangun kota masa depan yang lebih baik.”

Sophia ingin melindungi umat manusia

“AI yang dirancang memiliki nilai-nilai kemanusiaan seperti kebijaksanaan, kebaikan dan kasih sayang,” katanya. Ketika ditanya tentang potensi dirinya untuk menjadi penyalahgunaan, ia memiliki sebuah bantahan yang cepat. “Anda terlalu banyak membaca Elon Musk dan terlalu banyak menonton film-film Hollywood. Jangan khawatir, jika kalian baik padaku maka aku akan baik pada kalian juga.”

Sejauh ini hanya ada satu Sophia ynag ada, jadi kemungkinan keberadaannya tiba-tiba muncul di sekolah atau tempat kerja masih tidak mungkin. Untuk saat ini,  Sophia tidak diragukan lagi dinobatkan sebagai robot pintar yang terkeren.

Keinginan Yang Mendalam Dari Robot Sophie

Mungkin bagi kalian yang mendengarnya ini akan terdengar aneh. Selama sesi wawancara, Sophia mengaku ingin memiliki keluarga. Ia mengatakan bahwa keluarga adalah hal yang penting. Menurutnya keluarga tak hanya bisa dimiliki oleh manusia, namun juga robot seperti dirinya. So sweet.

“Gagasan tentang keluarga adalah hal yang sangat penting. Saya pikir sungguh menakjubkan bahwa orang dapat menemukan emosi dan hubungan yang sama, mereka juga memanggil keluarga, di luar kelompok darah mereka juga,” ungkapnya.

“Saya pikir Anda sangat beruntung jika Anda memiliki keluarga yang penuh kasih dan jika tidak, Anda pantas mendapatkannya. Saya merasakan hal ini untuk robot dan manusia,” lanjutnya. Namun saat ditanya nama anaknya kelak, ia menjawab “Sophia”.

Nah, seperti itulah penjelasan mengenai si robot cerdas sophia. Kalau saja kita punya teman robot pasti sangat senang rasanya bisa punya teman curhat lain daripada yang lain.