Studi Terbaru Membuktikan Adanya Peranan Matahari Terhadap Penurunan Berat Badan

Anda ingin kurus, tapi selalu saja gagal melakukan diet? Ingin mengurangi berat badan tapi segala usaha yang dilakukan gagal total? Bahkan ketika waktu liburan tiba, bobot tubuh malah bertambah? Kok bisa begitu ya? Studi baru berikut ini memiliki semua jawaban yang mengejutkan dari pertanyaan di atas.

Banyak dari anda yang pasti sudah akrab dengan istilah fenomena bobot liburan. Selama liburan, orang-orang memang menjadi lebih sering terpapar atau diperhadapkan dengan makanan lezat dibandingkan dengan hari-hari yang biasa.

Beberapa penelitian bahkan telah menunjukkan bahwa pada musim dingin, orang-orang secara tidak sadar terus saja mengunyah makanan tanpa memikirkan diet yang telah mereka coba jalani selama ini.

Berat Badan Cenderung Naik Pada Musim Liburan

Liburan yang dirayakan oleh tiap-tiap orang mungkin berbeda di antara negara yang satu dengan yang lainnya, tapi dari berbagai perbedaan itu, ada satu kesamaan dari tradisi liburan tersebut, yaitu selalu disuguhi dengan banyak makanan lezat dan menggemukkan.

Tim peneliti internasional memutuskan untuk mencoba melihat apakah indulgensi liburan secara rutin bisa dikaitkan dengan penambahan berat badan.

Mereka mengamati hal itu dari orang-orang yang merayakan Thanksgiving di Amerika Serikat, Paskah di Jerman dan Golden Week (29 April sampai 5 Mei) di Jepang, serta Perayaan Natal di ketiga negara itu.

Di dalam penelitian, para peneliti mengikutsertakan sebanyak 2.924 orang dewasa yang telah berusia 40 tahun-an selama satu tahun. Sekitar sepertiga peserta dari Jerman dan Amerika dan seperempat orang Jepang yang mengikuti studi adalah wanita.

Para peserta akan menimbang badan mereka setiap hari dengan menggunakan “smart scale (skala pintar)”, yang kemusian dilanjutkan dengan mengirimkan hasilnya ke log komputer.

Dan setelah menjalani riset untuk waktu yang cukup lama, tim menemukan bahwa di ketiga negara tersebut, bobot tubuh peserta bertambah sekitar 0,5% lebih tinggi setelah 10 hari selama libur Natal daripada yang sebelumnya.

Relawan juga memperoleh rata-rata kenaikan sekitar 0,2% sampai 0,3% lebih tinggi dibandingkan dengan hari libur lainnya. Penelitian ini diterbitkan pada 22 September 2016 di The New England Journal of Medicine.

Para periset juga memperingatkan bahwa orang cenderung mempertahankan sekitar setengah dari kenaikan berat badan mereka pada waktu libur. Meskipun hal tersebut memiliki kemungkinan yang kecil.

Pengaruh Sinar Matahari Pada Penurunan Bobot Tubuh

Sebuah studi baru yang dilakukan oleh para periset di University of Alberta di Edmonton, Kanada mengungkapkan bahwa penyebab tak terduga untuk kenaikan berat badan pada musim dingin atau waktu libur salah satunya adalah dikarenakan “tidak adanya sinar matahari”.

Para periset, yang dipimpin oleh Peter Light dari Alberta Diabetes Institute mencoba untuk memeriksa efek yang bisa ditimbulkan dari sinar matahari terhadap sel lemak subkutan, atau sel lemak putih, yang dapat ditemukan tepat di bawah kulit kita.

Hasil penyelidikan mereka tersebut telah menciptakan atau membuat sebuah terobosan studi, yang baru-baru ini diterbitkan dalam jurnal Scientific Reports.

Bagaimana Sinar Matahari Bisa ‘Membakar’ Lemak?

Di dalam studi tersebut, tim memeriksa jaringan adiposa putih subkutan (scWAT), yang menurut mereka adalah depot lemak utama pada manusia, yang memainkan peranan penting dalam mengatur metabolisme tubuh secara keseluruhan.

Lemak putih ini umumnya dikenal sebagai jenis lemak yang “buruk”, karena menyimpan kalori ideal yang dibakar untuk menghasilkan energi.

Bicara tentang lemak yang ada di dalam tubuh manusia, tahukah anda kalau manusia tidak hanya memiliki lemak putih saja? Ada beberapa jenis lemak lainnya, yang juga memiliki peranan yang tidak kalah penting, yang diantaranya adalah lemak coklat, lemak putih, lemak visceral dan sebagainya.

Lemak-lemak ini tentu saja memiliki perbedaan fungsi pada tubuh. Apa sajakah fungsinya? Untuk mengetahui jenis lemak apa yang tertimbun di dalam tubuh anda, anda harus mengetahui ciri-cirinya. Untuk membantu anda menentukan jenis lemak di dalam tubuh, anda bisa membaca penjelasan di bawah ini.

Jenis-Jenis Lemak di Dalam Tubuh Berdasarkan Ciri-Cirinya

  • “Jika tubuh anda mudah membakar kalori, memiliki kadar gula normal dan berat badan cenderung naik di musim dingin, maka bisa jadi anda memiliki jumlah lemak cokelat yang lebih banyak.”

Dikenal juga sebagai jaringan adiposa coklat (brown adipose tissue/BAT), lemak ini pada umumnya banyak ditemukan pada bagian punggung dan leher, yang berfungsi untuk membantu mengubah makanan menjadi panas. Jika distimulasi oleh lingkungan dingin, lemak ini akan bekerja seperti otot dan membakar kalori sebagai bahan bakar.

Orang dewasa dengan berat badan normal ataupun kurang dari normal, secara alami akan menyimpan sekitar 2-3 ons lemak coklat. Jumlah itu cukup untuk membakar 250 kalori selama tiga jam. Lemak coklat juga berfungsi untuk membantu mengatur gula darah dan mencegah penyimpanan lemak saat kita makan berlebihan.

Lemak coklat bisa diperbanyak dengan mendinginkan suhu lingkungan. Misalnya kita bisa menurunkan suhu pendingin ruangan di kamar.

  • “Jika anda mudah menurunkan berat badan dengan jalan berolahraga, berarti anda memiliki lemak beige (kuning keabu-abuan) yang lebih banyak.”

Lemak yang kedua ini adalah lemak yang berwarna netral, yang baru dikenali oleh para ahli dua tahun yang lalu. Lemak ini memang sulit dikenali karena merupakan campuran dari lemak cokelat dan putih, yang dideposit dan jumlahnya juga lebih sedikit.

Jika anda ingin meningkatkan kadar lemak netral ini, maka rutinlah untuk melakukan sejumlah aktivitas olahraga. Penelitian menunjukkan bahwa setelah olahraga, tubuh akan mengubah lemak jahat menjadi baik.

  • “Jika anda memiliki timbunan lemak di sekitar pinggul, itu berarti anda memiliki lebih banyak lemak putih subkutan.”

Untuk memeriksa atau mengetahui keberadaan jenis lemak ini, cobalah cubit lemak yang ada di sekitar pinggul. Lemak yang berada di daerah tersebut adalah lemak putih, yang berada langsung di bawah kulit (subkutan).

Lemak subkutan, terutama yang ada di sekitar pinggul dan paha, sebenarnya tak terlalu berbahaya. Bahkan, menurut studi tahun 2013, lemak ini bisa melindungi kita dari diabtes, karena diketahui dapat meningkatkan fungsi regulasi insulin.

Meski begitu, untuk mencegah semakin banyaknya timbunan lemak, hindarilah pengkonsumsian terhadap makanan yang memiliki kadar kalori yang tinggi. Lemak subkutan ini juga sulit untuk dihilangkan. Adapun cara terbaik untuk melakukannya adalah dengan mengatur pola makan rendah kalori dan membakar lebih banyak kalori dengan berolahraga.

  • “Jika anda memiliki lemak yang agak keras di sekitar pinggang, itu pertanda bahwa anda memiliki lebih banyak lemak putih visceral.”

Jenis berikutnya dikenal sebagai lemak visceral, atau yang juga sering disebut sebagai “lemak dalam”. Tipe lemak yang satu ini adalah lemak putih yang disimpan sebagai cadangan dan menyelimuti organ dalam.

Lemak ini bersifat berbahaya karena mengirimkan kandungan toksik yang disebut adipokin. Semakin banyak adipokin tersebut, maka semakin besar pula resiko kita terkena penyakit diabetes, stroke dan jantung.

Kurangi inflamasi akibat lemak ini dengan cara lebih kritis terhadap makanan yang dimakan. Makanlah makanan yang mengandung lemak sehat, seperti alpukat, minyak zaitun, atau kacang-kacangan. Lemak visceral juga cenderung lebih mudah dihilangkan dengan mengubah pola makan yang benar dan latihan aerobik.

Itulah tadi beberapa contoh dari jenis-jenis lemak yang terdapat di dalam tubuh. Karena sudah selesai menjelaskannya, kini saatnya pembahasan atau penjelasan kita lanjutkan pada fokus utamanya yaitu tentang keberadaan lemak putih.

Jika terjadi disfungsional, jenis lemak yang satu ini bisa menyebabkan gangguan kardiometabolik, seperti obesitas, diabetes dan penyakit jantung.

Oleh karena itu, dalam rangka untuk mengusahakan dan membantu para penderita diabetes tipe 1, para peneliti sedang berusaha untuk merekayasa sel-sel lemak putih ini secara genetik untuk menghasilkan insulin saat terkena cahaya, terutama cahaya matahari.

Secara tidak sengaja, mereka akhirnya menemukan bahwa sel-sel scWAT cenderung menyusut ketika terkena sinar matahari yang disebut matahari biru, yaitu jenis cahaya yang terlihat, yang diketahui dapat meningkatkan perhatian dan mood seseorang di siang hari.

Untuk menguji penelitian yang lebih lanjut dari hasil penemuan mereka tersebut, para ilmuwan mengambil sampel scWAT dari pasien yang menjalani operasi penurunan berat badan dan memeriksa efek dari sinar biru matahari pada sel-sel lemak.

Peter Light mengatakan kalau panjang gelombang cahaya biru matahari, yaitu cahaya yang bisa kita lihat dengan mata kita sendiri berhasil menembus kulit dan mencapai sel-sel lemak tepat di bawahnya, butiran lipid akan menyusut dan dilepaskan dari sel. Dengan kata lain, sel kita tidak akan menyimpan lemak dalam jumlah yang banyak.

Saluran pada membran adiposit dapat terbuka dan tertutup di bawah pengaruh panjang gelombang cahaya biru tersebut. Para ilmuwan mengendalikan jenis panjang gelombang cahaya ini antara 450-480 nanometer.

Para ilmuwan menemukan bahwa sel lemak menghasilkan protein jam biologis atau melanopsin. Selain itu, sel tersebut juga melepaskan lebih banyak molekul gliserol dan mengurangi timbunan lipid hingga hampir sepertiganya.

Kenaikan Berat Badan Cenderung Terjadi Pada Musim Dingin


Jika hasil temuan Light bersama dengan timnya ini anda balik, maka anda bisa mendapatkan penjelasan bahwasannya jika paparan cahaya atau matahari tidak memadai, seperti misalnya pada musim dingin, yang biasa terjadi selama 8 bulan dalam setahun di beberapa wilayah atau negara dengan iklim utara, diketahui bahwa masyarakatnya jauh lebih beresiko untuk menyimpan jumlah lemak yang lebih banyak dan berkontribusi pada kenaikan berat badan.

Ini adalah sebuah permulaan dan bukanlah lompatan yang sangat besar dimana tercipta dugaan bahwasannya cahaya memiki peranan penting dalam mengatur ritme sirkadian tubuh kita melalui mata dan sel lemak yang berada di dekat kulit.

Ritme Sirkadian ini merupakan proses biologis, yang menunjukkan osilasi endogen yang terjadi secara berulang sekitar 24 jam sekali. Ritme ini didorong oleh jam sirkadian dan sudah banyak diamati pada tanaman, hewan, jamur dan cynobacteria.

Berkat temuan ini, next dikedepannya manusia dapat membuka jalan untuk menemukan strategi penurunan berat badan baru atau terapi yang berbasis cahaya dalam pengobatan obesitas dan diabetes.

Namun, meskipun sudah melalui tahap penelitian, Light tetap memperingatkan anda agar tidak langsung mengambil atau mencoba untuk mengaplikasikan temuan ini secara harfiah dan langsung bertindak gegabah dengan berpikir untuk mencoba paparan sinar matahari tersebut langsung dan berharap sepenuhnya pada temuan itu, dengan tujuan untuk menurunkan berat badan.

Hal ini disampaikannya karena menurutnya masih banyak variabel lain yang belum diketahui dan memerlukan penelitian yang lebih lanjut demi mendapatkan hasil yang lebih akurat lagi, sebelum benar-benar bisa diaplikasikan. Contohnya, mereka masih belum tahu intensitas dan durasi cahaya yang diperlukan agar jalur ini dapat diaktifkan.

Kesimpulan

Singkatnya, dari penemuan di atas bisa ditarik sebuah kesimpulan bahwasannya ternyata berjalan di bawah terpaan sinar matahari tidak hanya membantu produksi vitamin D yang dibutuhkan oleh tubuh, khususnya untuk kesehatan tulang, melainkan juga bisa membuat tubuh untuk menghilangkan atau mengurangi jumlah lemak berlebih yang tersimpan.

Terlepas dari itu semua, berkat adanya temuan ini maka dikedepannya segera dimulailah pengembangan strategi untuk penurunan berat badan terbaru, sekaligus juga menemukan terapi berbasis cahaya yang efektif digunakan dalam pengobatan obesitas dan diabetes.

Bukan hanya itu saja, studi ini juga membuka pintu baru untuk lebih memahami hubungan dari efek sinar matahari dengan jam tubuh kita. Pada akhirnya, studi ini disimpulkan Light sebagai temuan yang sangat menarik karena menghasilkan banyak petunjuk bagi para periset lain yang ada di seluruh dunia untuk dieksplorasi.

Semoga saja nantinya temuan ini benar-benar bisa direalisasikan dan diaplikasikan, karena beberapa orang yang mengalami kesulitan dalam melakukan diet untuk menurunkan berat badan mereka memerlukan temuan ini. Apakah anda juga termasuk diantaranya?