Menurut Penelitian, Minuman Beralkohol Bisa Membantu Membersihkan Otak

Jika anda adalah tipe orang yang sangat menyukai minuman yang beralkohol, sepertinya hasil penelitian yang akan dijelaskan di dalam artikel ini akan membuat anda tertarik, tersenyum dan setidaknya bisa berbangga diri.

Tahukah anda, ternyata berdasarkan sebuah hasil penelitian yang telah dilakukan beberapa waktu yang lalu, para periset  menemukan bahwasannya asupan alkohol dalam kadar yang “rendah” dapat membantu membersihkan otak.

Kadar yang “Rendah”, berarti hal ini hanya berlaku pada mereka yang mengkonsumsi alkohol sekedarnya dan bukan untuk tujuan mabuk-mabukan. Termasuk ke dalam kategori yang manakah anda?

Minuman Yang Seperti Apakah Minuman Beralkohol Itu?

 

Kebanyakan dari anda yang membaca artikel ini pasti sudah kenal dengan yang namanya minuman beralkohol. Akan tetapi, untuk sekedar mengingatkan saja, yang dimaksud dengan minuman alkohol atau yang biasa disingkan dengan Minol ini merupakan jenis minuman yang umumnya mengandung etanol.

Etanol sendiri adalah bahan psikoaktif yang konsumsinya bisa menyebabkan penurunan kesadaran. Di berbagai negara, penjualan minuman beralkohol dibatasi ke sejumlah kalangan saja, umumnya orang-orang yang telah melewati batas usia tertentu.

Alkohol biasanya dibuat melalui proses peragian atau fermentasi dari sejumlah bahan, seperti: madu, gula, sari buah atau umbi-umbian. Dari peragian tersebutlah bisa dihasilkan alkohol sampai dengan kadar 15%.

Akan tetapi, setelah memasuku yang namanya proses penyulingan (destilasi), maka didapatkanlah kadar alkohol yang lebih tinggi dari yang sebelumnya, yang bahkan bisa mencapai 100%.

Kadar alkohol yang masuk ke dalam darah maksimum dicapai sekitar 30-90 menit. Setelah diserap, alkohol atau etanol tersebut kemudian disebarluaskan ke suluruh jaringan dan cairan tubuh.

Dengan peningkatan kadar alkohol di dalam darah tersebutlah orang-orang akan langsung merasakan euforia, yaitu perasaan yang sangat senang atau berlebiham yang muncul tanpa adanya alasan tertentu yang mendasari kesenangan itu sendiri. Akan tetapi, hal tersebut juga bisa mengakibatkan depresi.

Secara garis besar, dr. Eva Viora, SP. KJ, selaku direktur Bina Kesehatan Jiwa Kemenkes RI, menggolongkan minuman beralkohol ini ke dalam 3 golongan, yang didasarkan pada kadar kandungan alkohol terendah sampai dengan yang tertinggi yang dimiliki oleh minuman tersebut. Adapun golongan yang dimaksud, yaitu :

  • Golongan A

Minuman yang masuk ke dalam kategori golongan A ini adalah jenis minuman yang memiliki kandungan etanol sebesar 1 sampai dengan 5 persen.

Adapun yang termasuk ke dalam jenis ini contohnya adalah Bir. Karena kandungan alkoholnya adalah yang paling rendah, bir banyak diperjualbelikan di mini market ataupun di toko-toko yang lainnya.

Biasanya seseorang tidak akan langsung mabuk setelah meminum jenis alkohol ini.  Namun meskipun demikian, tetap saja minuman ini memiliki efek yang kurang baik untuk tubuh.

  • Golongan B

Golongan yang kedua ini diisi oleh minuman-minuman dengan kadar etanol sebesar 5 sampai dengan 20 persen. Jenis minuman yang masuk ke dalam kategori ini adalah aneka jenis anggur atau wine.

Karena kadar kandungan alkoholnya terbilang lumayan tinggi, minuman jenis ini bisa mengakibatkan orang yang meminumnya menjadi mabuk, terutama bila jumlahnya terbilang banyak. Terutama mereka yang baru sebagai pemula.

  • Golongan C

Jenis minuman beralkohol yang terakhir adalah golongan C. Minuman yang masuk ke dalam jenis ini umumnya memiliki kadar alkohol yang paling tinggi, yang diperbolehkan untuk dikonsumsi oleh manusia.

Kadar etanol jenis minuman golongan C ini adalah 20 sampai dengan 45%. Jenis minuman yang termasuk dalam golongan ini adalah Whisky, Vodka, TKW, Johny Walker dan lain sebagainya.

Masing-masing golongan minuman beralkohol yang telah disebutkan di atas bisa dikonsumsi dalam jumlah yang berbeda-beda. Untuk Bir, jumlah yang boleh dikonsumsi dalam satu hari adalah tidak lebih dari 285 ml, sedangkan Wine tidak lebih dari 120 ml dan untuk minuman golongan C seperti Whisky, yaitu 30 ml per hari.

Efek Samping Mengkonsumsi Minuman Beralkohol

 

Jika hanya meminum dalam kadar atau jumlah yang tidak berlebihan atau sekadarnya, minuman yang beralkohol tidak akan memberikan dampak negatif bagi orang yang mengkonsumsinya.

Tapi jika yang dilakukan adalah yang sebaliknya, minuman beralkohol ini bisa menimbulkan ganggguan mental organik (GMO), yaitu gangguan dalam fungsi berpikir, merasakan dan berperilaku.

Timbulnya GMO itu disebabkan oleh reaksi langsung dari alkohol pada sel-sel saraf pusat. Karena sifat adiktif alkohol tersebut, orang yang meminumnya tanpa sadar lama-kelamaan akan terus menambah takaran atau dosisnya sampai pada dosis keracunan atau mabuk.

Mereka yang sudah ketagihan biasanya akan mengalami suatu gejala yang disebut dengan sindrom putus alkohol, yaitu rasa takut diberhentikan dari kebiasaan minum alkohol. Mereka akan sering merasa gemetar dan jantung berdebar-debar, merasa cemas, gelisah, murung dan sering berhalusinasi.

Selain itu, minuman beralkohol juga bisa menimbulkan efek moderat, seperti euphoria (perasaan gembira dan nyaman), orang tersebut mrnjadi lebih banyak bicara dan merasa pusing.

Secara garis besar, efek negatif yang akan dirasakan setelah minum minuman beralkohol dalam jumlah yang besar adalah sebagai berikut:

Dampak Jangka Pendek

  • Banyak bicara (suka ngoceh nggak jelas)
  • Mengalami muntah-muntah setelah minum
  • Timbul sakit kepala atau merasa pusing
  • Mudah merasa haus
  • Merasa Lelah
  • Mengalami disorientasi (kehilangan daya untuk mengenal lingkungan, terutama yang berkenaan dengan waktu, tempat dan orang).
  • Tekanan darah menurun
  • Gerak refleks melambat

Akibat Penggunaan Jangka Panjang 

  • Menimbulkan rasa kegelisahan
  • Gemetar dan tremor
  • Sering berhalusinasi
  • Mengalami kejang-kejang
  • Bila disertai dengan nutrisi yang buruk, akan merusak organ vital seperti otak dan hati

Fakta Bahwa Alkohol Bisa Membersihkan Otak

 

Siapa sangka kalau ternyata minuman beralkohol bisa memberikan dampak positif yang luar biasa pada masyarakat. Di dalam sebuah studi yang dilakukan, para ilmuwan dari University of Rochester Medical Center (URMC) di New York menemukan sebuah fakta baru dan mengejutkan tentang pengkonsumsian minuman beralkohol.

Faktanya adalah bahwa meminum sekitar 2,5 minuman beralkohol per harinya dapat mengurangi peradangan otak. Hal tersebut juga sangat bermanfaat untuk meningkatkan fungsi sistem glymphatic, yang bertanggung jawab untuk mengeluarkan produk limbah dari dalam otak.

Itu kalau kadar yang dikonsumsi masih dalam kata wajar. Tapi kalau yang dikonsumsi jumlah minuman alkoholnya tinggi, yang anda terima atau dapatkan nantinya bukanlah dampak posifif, tapi efek negatif, yang akan mengganggu fungsi glymphatic dan bisa meningkatkan resiko peradangan otak.

Penulis utama studi ini yaitu Dr. Maiken Nedergaard dari Pusat Ilmu Kesehatan Translasional di URMC dan rekan penelitinya baru-baru ini telah melaporkan temuan mereka mengenai manfaat minol tersebut di jurnal Scientific Reports.

Seharusnya tidak mengherankan lagi jika kelebihan asupan alkohol dapat membahayakan kesehatan. Karena pada dasarnya, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah melaporkan bahwa alkohol adalah penyumbang “lebih dari 200 kondisi kesehatan” dan menyebabkan sekitar 3,3 juta kematian di seluruh dunia setiap tahunnya.

Tapi bagaimanapun juga, penelitian kali ini telah menemukan atau mengatakan kalau mengkonsumsi sedikit alkohol dapat membantu anda dan kita semua.

Sebuah penelitian yang dilaporkan oleh Medical News Today tahun lalu, menyarankan bahwa meminum alkohol dalam jumlah yang sedang (berarti tidak sedikit dan tidak terlalu banyak), dapat mengurangi resiko seseorang untuk terkena diabetes, sedangkan penelitian yang lain terkait dengan asupan alkohol ini juga telah menunjukkan efek positifnya dalam menciptakan fungsi kognitif yang lebih baik.

Studi baru ini memberikan bukti yang lebih lanjut tentang manfaat meminum minuman beralkohol dalam jumlah yang cukup pada potensial otak, setelah mereka berhasil menemukan bahwa mengkonsumsi beberapa minuman setiap hari, dapat membantu membersihkan otak dari racun.

Minuman Beralkohol Bisa Memperbaiki Fungsi Glymphatic

 

Berdasarkan hasil penelitian yang diperoleh, diketahui mahwa minuman alkohol berdampak baik pada fungsi glymphatic. Para peneliti tersebut menemukan temuan mereka dengan menilai efek paparan alkohol akut dan kronis pada sistem glymphatic tikus.

Istilah untuk sistem glymphatic ini pertama kali dipaparkan oleh Dr. Nedergaard dan rekannya di tahun 2012. Dia menyebutkan bahwa sistem glymphatic adalah proses pembersihan otak, dimana cairan tulang belakang serebral “dipompa” ke otak.

Kemudian cairan tersebut akan membantu menghilangkan produk limbah yang ada di dalam otak, yang berpotensi membahayakan. Produk limbah ini meliputi protein beta-amyloid dan tau protein, yang akumulasi keduanya merupakan ciri khas dari penyakit Alzheimer.

Para periset menemukan bahwa ketika hewan pengerat (tikus percobaan) terkena dosis tinggi alkohol dalam waktu yang lama, tikus tersebut menunjukkan terjadinya peningkatan penanda inflamasi. Hal ini terutama terlihat pada astrosit, atau sel yang membantu mengendalikan fungsi glymphatic.

Selain itu, paparan alkohol yang tinggi ditemukan dapat mengganggu fungsi kognitif dan kemampuan motorik pada tikus. Setelah memberikan tikus tersebut alkohol dengan dosis yang tinggi, percobaan kemudian dilanjutkan dengan pemberian dosisi yang rendah.

Dah hasilnya, tim peneliti berhasil menemukan bahwa tikus yang diberi dosis alkohol yang “rendah”, yang dalam studi ini, setara dengan mengkonsumsi sekitar 2,5 minuman alkohol per hari, ternyata tidak hanya menunjukkan pengurangan peradangan otak, namun fungsi glymphatic tikus tersebut juga membaik, dibandingkan dengan kelompok kontrol yang tidak terpapar alkohol.

Setelah penelitian selesai dilakukan Dr. Nedergaard mengatakan kalau data tentang efek alkohol pada sistem glymphatic tampaknya sesuai dengan model berbentuk-J, yang berkaitan dengan efek dosis alkohol terhadap kesehatan umum dan kematian, dimana dosis rendah alkohol bisa memberikan manfaat, sementara dosis yang berlebihan akan memberikan hal yang sebaliknya atau bisa merugikan kesehatan secara keseluruhan.

Dia juga menambahkan pernyataannya dengan mengatakan bahwa sejumlah penelitian telah menghubungkan rendahnya konsumsi alkohol dengan risiko demensia yang lebih rendah. Studi ini bisa membantu menjelaskan mengapa hal tersebut bisa terjadi.

Kesimpulan

Pada dasarnya kebiasaan mengkonsumsi minuman beralkohol adalah hal yang buruk, apalagi jika dikonsumsi dalam jumlah yang cukup banyak. Karena memiliki pengaruh yang besar untuk kesehatan, beberapa negara membatasi peredaran minuman ini.

Hal ini dikarenakan banyak orang yang menyalahgunakannya, seperti mabuk-mabukan, yang berakibat pada kesehatan tubuh dan menimbulkan banyak kasus kecelakaan di beberapa negara, yang disebabkan oleh kecerobohan pengemudi yang mengendarai kendaraannya dalam kondisi mabuk.

Tapi terlepas dari pandangan negatif terhadap minuman ini, sebuah studi berhasil menunjukkan bahwa minuman alkohol hanya akan berbahaya kalau dikonsumsi dalam jumlah dan kadar yang tinggi.

Namun jika kadar alkoholnya rendah, minuman ini bisa memberikan dampak positif pada kesehatan otak secara keseluruhan, karena berdasarkan penelitian yang dilakukan, minol bisa membersihkan otak dari zat-zat yang berbahaya, yang sebagiannya berperan dalam menimbulkan penyakit alzheimer.