Mengenal Gempa Bumi Dan Skala Richter Yang Digunakan Untuk Mengukur Kekuatannya

Belakangan ini kita sedang gencar mendapatkan berita tentang banyaknya bencana alam yang menimpa saudara-saudara kita. Ada banyak bencana alam yang terjadi mulai dari meletusnya gunung merapi, banjir, hingga yang belakangan ini sering terjadi ialah gempa bumi. Bisa dikatakan juga kalau gempa bumi juga merupakan salah satu yang banyak menyebabkan kerugian, bukan hanya materi melainkan juga hilangnya banyak nyawa.

Jika menilik ke belakang, bencana gempa mungkin adalah salah satu bencana alam yang paling sering terjadi di berbagai belahan dunia. Kita pastinya juga merasa kalau bencana gempa adalah hal yang paling sering kita dengar beritanya jika dibandingkan dengan bencana alam yang lainnya.

Nah, berbicara mengenai gempa, terdapat hal-hal yang menarik untuk kita ketahui. Dan biasanya juga, jika berbicara mengenai gempa, pastinya ada satu hal yang tidak bisa dipisahkan, yaitu skala richter. Seperti apa penjelasannya semua akan kita bahas satu-persatu. Selain menarik, pastinya juga sebagai penambah pengetahuan kita. Apa saja? Silahkan simak ulasannya berikut ini.

Apa Itu Gempa Bumi

Seperti yang sudah dikatakan, gempa bumi merupakan salah satu bencana alam yang paling sering melanda. Bencana alam yang satu ini juga salah satu yang paling banyak menyebabkan kerugian mulai dari segi fisik, material, dan juga lingkungan sekitar yang menjadi titik terjadinya gempa. Namun sebenarnya apa sih yang dimaksud dengan gempa bumi ini?

Jika kita dalami, kata “Gempa Bumi” berasal dari dua kata. Kata yang pertama adalah Gempa, yang memiliki arti sebagai guncangan ataupun getaran yang terjadi pada suatu titik. Dan kata kedua yaitu Bumi, yang mana seperti yang kita semua tahu, bumi adalah sebuah planet yang merupakan tempat tinggal kita. Dan jika diartikan maka gempa bumi itu adalah suatu guncangan ataupun getaran pada titik tertentu yang terjadi pada permukaan bumi dari sebab tertentu.

Gempa bumi juga dapat diartikan sebagai sebuah guncangan yang terjadi pada permukaan bumi akibat terjadinya pergeseran pada lempeng bumi akibat adanya Gelombang Seismik yang terjadi pada dasar atau inti bumi. Selain hal tersebut, gempa bumi biasa juga disebabkan karena letusan gunung merapi dan bisa juga karena ulah dari perbuatan manusia.

Jenis – Jenis Gempa Bumi Beserta Penyebabnya

Mungkin selama ini kita hanya tahu kalau gempa bumi itu hanya guncangan yang memiliki dampak “kehancuran” yang mana terjadi pada suatu titik atau tempat tertentu. Namun, yang juga harus kita ketahui adalah bahwa ternyata gempa bumi itu ada bermacam-macam jenisnya. Gempa bumi dibagi lagi berdasarkan lokasi terjadinya, gelombang, kedalamannya dan berdasarkan penyebab terjadinya. Mari kita bahas satu persatu :

Gempa Bumi Berdasarkan Lokasi Terjadinya

Pembagian jenis gempa bumi yang pertama yaitu berdasarkan lokasi yang menjadi letak terjadinya gempa bumi. Sejauh ini yang diketahui tentang gempa bumi berdasarkan lokasinya adalah berasal dari dua tempat, yaitu di darat dan di laut.

  • Gempa Bumi Yang Terjadi Di Darat

Sesuai dengan namanya, sudah bisa ditebak kalau jenis gempa yang ini adalah gempa yang lokasi terjadinya adalah di darat. Gempa bumi ini sendiri terjadi karena adanya sebuah lipatan atau patahan yang terjadi pada permukaan bumi. Jenis gempa ini tidak memiliki potensi untuk terjadinya Tsunami. Namun, gempa bumi ini cukup kuat untuk meruntuhkan gedung dan tak jarang juga jenis gempa ini sekaligus menyebabkan kebakaran akibat dari korsleting karena hancurnya gedung.

  • Gempa Bumi Yang Terjadi Di Laut

Berbeda dengan penjelasan barusan, gempa bumi yang satu ini adalah jenis gempa bumi yang mana terjadi di laut. Jika pada gempa bumi darat penyebab terjadinya adalah karena lipatan atau patahan yang terjadi pada permukaan bumi, penyebab gempa di laut adalah akibat dari adanya patahan atau lipatan yang terjadi di dasar laut. Gempa bumi ini memiliki potensi untuk terjadinya Tsunami. Hal tersebut karena adanya perbedaan disaat sebelum dan sesudah terjadinya gempa. Yang mana menyebabkan air laut menjadi naik dan terjadilah tsunami.

Gempa Bumi Berdasarkan Gelombang

Hal yang harus sama-sama kita tahu, gelombang bisa dikatakan adalah salah satu penyebab terjadinya gempa. Gelombang ini berasal dari pusat terjadinya gempa bumi yang disebut dengan Hiposentrum. Hiposentrum sendiri memiliki pengertian sebagai titik utama dari gempa yang tengah terjadi. Jenis gempa ini dibagi menjadi dua yaitu primer dan sekunder.

  • Gempa Bumi Berdasarkan Gelombang Primer

Yang pertama adalah gempa bumi yang terjadi berdasarkan gelombang primer. Gempa bumi berdasarkan gelombang primer adalah gempa bumi yang bersifat merambat. Gelombang ini berasal dari pusat gempa bumi yang terjadi dan dengan cepat merambat dengan kecepatan hingga 14 kilometer per detik. Gempa bumi berdasarkan gelombang primer adalah jenis gempa permulaan sebelum terjadinya gempa susulan.

  • Gempa Bumi Berdasarkan Gelombang Sekunder

Gempa bumi berdasarkan gelombang sekunder ini bisa dibilang sama halnya seperti gempa berdasarkan gelombang primer. Yang membedakannya adalah pada gelombang sekunder kecepatannya lebih lambat jika dibandingkan dengan gelombang primer. Kecepatan gempa yang terjadi pada gelombang sekunder hanya 7 kilometer per detik. Gempa berdasarkan gelombang sekunder ini merupakan gempa susulan setelah terjadinya gempa berdasarkan gelombang primer.

Gempa Bumi Berdasarkan Penyebab Terjadinya

Hal lainnya yang harus kita ketahui juga adalah bahwa gempa bumi terjadi berdasarkan penyebab yang berbeda-beda. Bukan hanya karena fenomena alam, bahkan gempa bumi juga bisa terjadi karena perbuatan manusia. Nah, berikut ini adalah beberapa jenis gempa yang terjadi berdasarkan penyebabnya.

  • Gempa Tektonik

Yang pertama adalah gempa bumi tektonik. Gempa tektonik merupakan gempa bumi yang terjadi akibat aktifitas pergeseran lempeng-lempeng tektonik. Lempeng tektonik adalah lempengan yang ada di dunia, yang mana lempeng-lempeng inilah yang kemudian membentuk benua-benua yang ada di dunia. Lempeng-lempeng ini bisa bergerak saling mendekat maupun saling menjauh. Gerakan pada lempeng inilah yang kemudian menyebabkan terjadinya gempa bumi. Jika lempeng-lempeng ini saling bersinggungan satu sama lain, hal ini berpotensi menyebabkan gempa bumi yang sangat besar.

  • Gempa Vulkanik

Gempa bumi yang selanjutnya adalah gempa vulkanik. Gempa vulkanik merupakan gempa yang terjadi akibat dari sebelum dan sesudah terjadinya letusan gunung berapi. Letusan gunung berapi sendiri terjadi karena adanya tekanan panas pada dapur magma yang ingin keluar dari inti untuk mencari tekanan yang lebih rendah. Akibatnya, tekanan itu membuat pergerakan pada lapisan permukaan bumi sehingga menggetarkannya. Gunung berapi yang hendak meletus, akan menimbulkan gempa-gempa kecil yang terjadi secara berulang-ulang. Dan ketika gunung tersebut meletus, akan menyebabkan gempa bumi yang memiliki getaran yang besar.

  • Gempa Bumi Akibat Benturan dan Reruntuhan

Ada juga gempa yang terjadi akibat adanya reruntuhan, yaitu getaran pada permukaan bumi yang terjadi akibat adanya aktifitas longsor. Longsor ini bisa terjadi akibat erosi ataupun gunung kapur yang runtuh sehingga mengakibatkan bergetarnya area di sekitar terjadinya aktifitas tersebut. Selain hal itu, contoh dari gempa akibat benturan adalah jatuhnya meteor yang membentur permukaan bumi sehingga menyebabkan gempa bumi.

  • Gempa Bumi Akibat Manusia

Nah, ternyata gempa bumi bukan hanya berasal dari fenomena alam. Gempa bumi juga bisa terjadi akibat dari perbuatan manusia. Gempa bumi akibat perbuatan manusia ini biasanya terjadi akibat dari penggunaan bahan peledak. Misalnya saat menggunakan bahan peledak untuk meruntuhkan gedung. Bahan peledak juga digunakan untuk melubangi gunung yang hendak dijadikan pertambangan. Akibat dari ledakan tersebutlah maka terjadinya gempa di sekitar area terjadinya ledakan tersebut.

Gempa Bumi Berdasarkan Kedalamannya

Berdasarkan kedalaman hiposentrumnya, gempa bumi jenis ini dapat dibedakan lagi menjadi gempa dangkal, gempa sedang, serta gempa dalam.

  • Gempa Dangkal

Yang pertama adalah gempa dangkal. Sesuai dengan namanya, gempa ini terjadi pada permukaan bumi dan tidak begitu dalam. Gempa bumi dangkal adalah gempa bumi yang kedalaman hiposentrumnya tidak terlalu dangkal, yaitu hanya sekitar kurang dari 50km dari atas permukaan bumi.

  • Gempa Sedang/Intermedier

Yang berikutnya adalah gempa sedang. Gempa jenis ini memiliki kedalaman yang lebih dari gempa dangkal. Gempa sedang adalah jenis gempa yang kedalaman hiposentrumnya lebih dari 50-300 km dari atas permukaan bumi.

  • Gempa Dalam

Yang terakhir yaitu gempa bumi dalam. Gempa bumi ini memiliki kedalaman hiposentrum yang paling dalam jika dibandingkan dengan gempa bumi dangkal dan sedang. Gempa bumi dalam adalah gempa bumi yang kedalaman hiposentrumnya bisa mencapai hingga 300-700 km dar atas permukaan bumi.

Penanggulangan Bila Terjadi Gempa

Bila terjadi gempa di lokasi kita, hal yang paling utama yang harus kita lakukan adalah untuk tetap tenang dan jangan panik. Ikuti instruksi dan sesegera mungkin keluar dari ruangan manapun kita berada. Itu adalah salah satu contohnya, berikut ini adalah beberapa cara untuk menghadapi atau menanggulangi gempa berdasarkan tempat dimana kita berada.

  • Saat Berada Di Dalam Rumah

Bila tengah berada di dalam rumah, pastikan dulu bahwa kita tidak benar-benar panik dan selalu mencoba untuk tetap tenang. Biasanya getarannya hanya terjadi beberapa saat saja. Selama jangka waktu terjadinya gempa tersebut, upayakan untuk mengutamakan keselamatan diri kita dan juga keluarga kita yang berada di sekitar kita. Cara paling utama yang harus dilakukan adalah bersembunyi di bawah meja untuk menghindari jika saja ada benda yang jatuh yang kiranya akan menimpa kita. Jika kira-kira tidak sempat atau tidak ada meja di sekitar kita, bantal juga bisa digunakan untuk melindungi kepala kita. Pastikan juga kalau tidak ada api yang menyala untuk mencegah terjadinya kebakaran.

  • Saat Berada Di Lingkungan Sekolah

Sama halnya seperti ketika berada di dalam rumah. Jika berada di sekolah terutama di dalam kelas, segeralah bersembunyi di bawah meja dan gunakan tas atau buku untuk melindungi kepala kita. Usahakan untuk selalu tenang dan jangan panik, kemudian ikuti instruksi untuk segera keluar dari bangunan sekolah dan usahakan juga jangan berdesak-desakan. Jika sudah keluar, hindari berdiri di dekat tiang atau pohon untuk menghindari terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan.

  • Saat Berada Di Luar Rumah

Jika terjadi gempa disaat kita sedang berada di luar rumah, usahakan untuk selalu melindungi kepala kita, entah menggunakan tas atau dengan apapun yang saat itu sedang kita bawa. Di lingkungan kerja, entah itu di perkantoran atau kawasan industri, merupakan tempat yang rawan akan jatuhnya benda-benda yang mungkin saja bisa menimpa kita. Jika kita tengah berada di dalam mall, bioskop ataupun basement parkir, jangan panik dan ikutilah instruksi dari bagian keamanan untuk mengungsi ke tempat yang lebih aman. Oleh karena itu selalu utamakan untuk melindungi diri.

  • Saat Berada Di Dalam Lift

Saat terjadi gempa ketika kita tengah berada di dalam mall, jangan gunakan lift biarpun gempa telah usai. Dan jika kita sudah terlanjur berada di dalam lift ketika gempa bumi terjadi, jangan panik, tekan lah semua tombol yang ada di dalam lift, dan begitu pintu lift terbuka segeralah keluar dan menuju tempat yang sekiranya aman. Jika lift yang kita gunakan tiba-tiba mati, hubungi pihak keamanan dengan menggunakan interphone jika tersedia.

  • Saat Berada Di Kereta Api

Jika kita tengah berada di dalam kereta api saat gempa terjadi, berpeganganlah yang erat untuk berjaga-jaga supaya terhindar dari benturan seandainya laju kereta dihentikan secara mendadak. Sebisa mungkin untuk tetap tenang dan mendengarkan instruksi yang diberikan oleh petugas. Jika hilang fokus dan salah menanggapi akan menyebabkan kepanikan yang tentunya akan membuat panik penumpang yang lainnya juga.

  • Saat Berada Di Dalam Mobil

Salah satu tanda yang bisa kita rasakan bila terjadi gempa ketika kita berada di dalam mobil adalah, mobil yang kita kendarai menjadi susah dikendalikan dan seakan-akan roda mobil kita seperti gundul. Jika seudah merasa seperti itu, usahakan untuk menghindari persimpangan dan menepi dari jalan raya. Ikuti instruksi pada radio mobil jika ada, jika sekiranya gempa yang dirasakan cukup kuar, segeralah keluar dari mobil dan mencari tempat aman untuk berlindung.

  • Saat Berada Di Gunung Atau Pantai

Saat merasakan gempa bumi ketika tengah berada di gunung, kita harus tetap tenang dan sesegera mungkin mencari tempat yang aman untuk menghindari hal yang tidak diinginkan, karena bisa saja terjadi longsor ketika gempa. Bila kita berada di pantai, pastikan kalau gelombang air laut tidak terlihat tinggi, jika sudah demikian, segeralah mengungsi ke tempat yang lebih tinggi untuk menghindari seandainya terjadi tsunami.

  • Beri Pertolongan

Saat terjadi gempa, sedikit banyaknya pasti ada orang yang terluka. Biasanya para petugas yang datang dari rumah sakit akan merasa kesulitan saat berada di lokasi. Sebelum ataupun saat petugas sudah datang ke lokasi kejadian, usahakan untuk memberikan pertolongan pertama pada korban sebisa mungkin.

  • Dengarkan informasi

Kebanyakan saat terjadi gempa, pasti kita seringkali langsung merasa panik dan membuat kita jadi kesulitan bahkan bingung harus melakukan apa. Oleh karena itu kita selalu dituntut untuk berusaha bersikap tenang ketika terjadinya gempa. Setelah itu, dengarkanlah informasi atau instruksi dari orang-orang sekitar untuk segera mengungsi ke tempat yang lebih aman untuk menghindari terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan. Kita bisa mempercayai informasi dari polisi ataupun petugas yang memang benar mengevakuasi, bukan mendengar dari orang yang tidak jelas.

Skala Richter, Yang Digunakan Untuk Mengukur Kekuatan Gempa

Seringkali ketika kita melihat berita mengenai gempa, pasti selalu ada informasi mengenai kekuatan gempa bumi yang terjadi dengan menggunakan skala, yaitu Skala Richter. Apa itu skala richter? Skala richter adalah skala yang digunakan untuk memperlihatkan atau mengukur tingkat kekuatan gempa yang terjadi. Skala Richter di awal kemunculannya hanya dibuat untuk digunakan pada gempa-gempa yang terjadi di daerah California Selatan saja. Namun dalam perkembangannya skala ini banyak diadopsi untuk gempa-gempa yang terjadi di tempat lainnya. Alat yang digunakan untuk mengukur skala richter disebut dengan Seismograph.

Skala Richter ini ditemukan oleh seseorang yang bernama Charles Francis Richter. Charles Francis Richter adalah seseorang yang dilahirkan di sebuah peternakan di Ohio, Amerika Serikat, pada 26 April 1900. Skala Richter atau SR didefinisikan sebagai logaritma (basis 10) dari amplitudo maksimum, yang diukur dalam satuan mikrometer, dari rekaman gempa oleh instrumen pengukur gempa (seismometer) Wood-Anderson, pada jarak 100 km dari titik pusat gempanya. Sebagai contoh, misalnya kita mempunyai rekaman gempa bumi (seismogram) dari seismometer yang terpasang sejauh 100 km dari pusat gempanya, amplitudo maksimumnya sebesar 1 mm, maka kekuatan gempa tersebut adalah log (10 pangkat 3 mikrometer) sama dengan 3,0 skala Richter.

Perlu kita ingat bersama bahwa perhitungan magnitudo gempa tidak hanya menggunakan teknik Richter seperti ini saja. Kadang-kadang bisa terjadi kesalahpahaman dalam pemberitaan yang ada di media tentang magnitudo gempa ini karena metode yang dipakai kadang tidak disebutkan dalam pemberitaan di media, sehingga bisa jadi antara instansi yang satu dengan instansi yang lainnya mengeluarkan besar magnitudo yang tidak sama.

Asal Usul Penemuan Skala Richter

Berawal di tahun 1928, saat dimana Charles Francis Richter meraih gelar doktor dari Universitas California Institute of Technology (Caltech). Di universitas inilah kemudian sang Richter mencapai ketenaran. Di Caltech pula, dia bersama dengan Beno Guetenburg, yaitu tepat pada tahun 1935 Richter mengembangkan suatu cara yang digunakan untuk mengukur besaran kekuatan gempa bumi, yakni apa yang kemudian sama-sama kita kenal dengan nama skala richter. Skala Richter yaitu skala yang dihitung berdasarkan besarnya amplitudo gempa bumi yang terekam oleh alat seismometer tipe Wood-Anderson pada jarak tertentu dari sumber gempa. Prinsipnya adalah, besarnya skala magnitudo gempa berbanding lurus dengan besar amplitudo dan berbanding terbalik dengan jarak alat ke sumber gempa.

Skala richter bekerja dengan cara menguraikan tingkat kekuatan gempa bumi dengan angka-angka yang ada pada kisaran antara angka 0 sampai 9. Yang mana artinya adalah, angka 9, seperti yang terjadi pada gempa bumi yang menyebabkan tsunami di Aceh pada tanggal 26 Desember 2004, merupakan angka tertinggi pada skala tersebut dan merupakan jumlah skala jarang terjadi.

Meski pada awalnya, yaitu pada tahun 1930-an, belum pernah terjadi gempa bumi yang memiliki kekuatan lebih besar dari magnitudo 8,9, skala tersebut masih digunakan sampai sekarang. Angka magnitudo gempa dapat diperoleh dengan cara mengukur amplitudo terbesar dalam mikron (10-6 m = 10 pangkat minus enam) pada seismogram. Jarak seismograf dirancang dengan standar sejauh 100 km dari pusat gempa. Dari jarak tersebutlah kemudian dapat diperoleh logaritma gempa.

Selain membuat skala yang dapat digunakan untuk mengukur kekuatan suatu gempa, Richter juga menuliskan buku teks untuk seismik. Buku tersebut antara lain adalah Elementary Seismology (1958) dan Seismicity of The Earth (1954) yang dituliskan bersama dengan koleganya, Beno Gutenberg. Bersama Frank Presso, Beno Gutenburg, dan Hugo Benioff yang merupakan tiga orang ilmuwan dan juga ahli seismologi dari California Institute of Technology (Caltech), Amerika Serikat. Richter dikenal juga sebagai Bapak Seismologi (The Fathers of Seismology).

Charles Francis Richter sendiri mengakui bahwa skala richter yang ia kembangkan sebenarnya didapat dengan cara yang tidak sengaja ketika ia tengah mengerjakan tugas doktoral untuk fisika teori di bawah ajaran Dr. Robert Millikan. “Ia (Millikan) menawarkan saya untuk bekerja di laboratorium seismik di bawah Harry Wood,” katanya. Akhirnya di sanalah ia mendapatkan data-data yang dijadikannya dalam penentuan skala richter yang legendaris itu. Pada mulanya skala richter digunakan untuk mengukur kekuatan relatif gempa bumi di California. Kini, skala itu digunakan untuk mengukur gempa bumi di seluruh dunia.

Richter memang bukan orang pertama yang membuat skala penentuan besaran kekuatan gempa. Sebelumnya sudah ada Giuseppe Mercalli, ilmuwan asal Italia, yang mempelajari gunung api dan menciptakan skala mercalli. Pada skala mercalli, intensitas gempa bumi diukur dengan skala yang terdiri dari 12 poin. Skala Mercalli ini mengukur suatu gempa bumi dari laporan orang-orang yang melihat kerusakan dan mewawancarai mereka yang selamat. Karena itu, skala mercalli sangat subjektif dan tidak seakurat skala richter sehingga untuk mengukur kekuatan gempa hingga kini tetap digunakan skala richter. Sejak tahun 1960-an juga mulai diperkenalkan skala moment magnitude yang lebih akurat.

Pengukuran Gempa Sebelum Adanya Skala Richter

Jauh sebelum orang-orang mulai mengenal Richter, sebuah prototipe mengenai penghitungan skala gempa dengan skala kerusakan 10 tingkat, telah dikembangkan oleh Rossi dan Forel pada tahun 1883. Setelah itu, kemudian pada tahun 1897 muncul pula skala mercalli yang mana pada saat itu masih menggunakan skala yang sama dengan yang digunakan oleh Rossi dan Forel, yaitu 10 tingkatan.

Cancani pada tahun 1904 lebih mengembangkan lagi kisaran skala kerusakan gempa menjadi 12 angka. Setelah itu, Sieberg melanjutkan dengan menganalisis efek dan deskripsi kerusakan bangunan dan menjadikannya diterima sebagai skema internasional pada 1917. Sejak saat itulah, skala tersebut dinamakan skala mercalli-cancani-sieberg dan digunakan di seluruh dunia. Namun, sejak 1964, para ahli lebih banyak menggunakan skala mercalli yang sudah diperbaharui.

Skala gempa sebelumnya juga ada yang dibuat oleh bangsa Jepang. Karena posisi dan kondisi geologinya, negara yang dijuluki “negara matahari terbit” tersebut sering dilanda gempa yang merusak. Maka dari itu tak heran jika kemudian para ahli gempa Jepang secara kreatif menciptakan skala gempa tersendiri, yang berbeda dengan skala gempa mercalli. Tahun 1900 muncul skala Omori yang mengukur kekuatan gempa pada tujuh tingkat kerusakan. Namun, skala tersebut kemudian dimodifikasi menjadi hanya enam tingkat saja. Skala Omori mengukur gempa berdasarkan tingkat kerusakannya. Angka satu untuk mengukur gempa yang terlihat jelas, namun tak berbahaya. Sementara angka enam untuk mengukur gempa yang bersifat merusak.

Penjelasan Mengenai Kekuatan Satuan Skala Richter

Mungkin kebanyakan dari kita masih bingung dan sering memikirkan dampak apa yang terjadi jika diukur sesuai dengan skala richter. Nah, berikut ini adalah penjelasan mengenai apa dampak yang ditimbulkan dihitung dari pengukuran skala richter.

  • 1 skala richter

Kita akan mulai dari angka yang paling kecil, yaitu 1 skala richter. Gejala yang dialami atau yang ditimbulkan pada kekuatan ini tidak begitu terasa, terkecuali oleh beberapa orang dalam keadaan luar biasa, dan umumnya pada skala ini, kekuatan gempa hanya terekam oleh seismograf.

  • 2-3 skala richter

Berikutnya yaitu di dalam skala 2 sampai 3 skala richter. Kekuatan yang berada pada skala ini dapat dirasakan oleh beberapa orang yang dalam keadaan diam di dalam rumah dan juga dapat diperkirakan seberapa lamanya gempa berlangsung.

  • 4 skala richter

Kemudian gempa dengan kekuatan berskala 4 skala richter. Gempa dengan kekuatan 4 skala richter ini bisa membangunkan orang yang sedang tidur dan juga dapat menggetarkan jendela dan benda-benda yang ada di sekitar ataupun di dalam rumah.

  • 5 skala richter

Gempa dengan getaran 5 skala richter ini secara pasti bisa dirasakan oleh setiap orang yang berada di sekitar titik gempa. Kekuatan gempa pada skala ini mampu untuk menghentikan bandul jam dan juga memecahkan piring serta kaca jendela.

  • 6-7 skala richter

Getaran kekuatan gempa yang terjadi pada ukuran skala 6-7 skala richter mampu menyebabkan beberapa kerusakan, perabot rumah tangga yang berjatuhan, dan kekuatan gempa yang terjadi pada skala ini mengharuskan semua orang untuk melakukan evakuasi keluar bangunan. Selain itu, getarannya juga dapat dirasakan dalam keadaan bergerak, dan bisa menyebabkan kerusakan pada bangunan.

  • 8-9 skala richter

Getaran kekuatan gempa sebesar 8-9 skala richter dapat mengakibatkan pasir dan lumpur terlempar, keadaan sekitar menjadi panik, dan juga dapat merusak bangunan modern. Selain itu, pipa yang berada di dalam tanah juga pecah, menyebabkan tanah retak, dan menggerakkan fondasi rumah.

Nah itulah penjelasan mengenai gempa dan juga skala richter yang digunakan untuk mengukur tingkat kekuatan gempa. Semoga dengan artikel ini bisa menambha wawasan serta pengetahuan kita semua.